Dari Desa ke Dunia: Kisah Afidha Membangun EBONI, Jam Tangan Masa Kini

Di tengah derasnya arus tren global dan produk massal, tidak banyak brand yang berani memilih jalan berbeda. EBONI adalah salah satunya. Brand jam tangan ini lahir bukan dari pusat kota besar, melainkan dari sebuah desa di Bayat, Klaten—tempat di mana cerita, keterampilan tangan, dan keberanian untuk bermimpi tumbuh berdampingan.

Di balik EBONI, ada sosok Afidha, seorang desainer sekaligus pengusaha yang percaya bahwa desain bukan sekadar soal estetika, melainkan soal makna, keberlanjutan, dan keberanian untuk tampil apa adanya.

Berawal dari Keresahan yang Sederhana

Perjalanan EBONI bermula dari kegelisahan Afidha melihat jam tangan yang beredar di pasaran terasa seragam dan kehilangan karakter. Banyak yang mahal karena merek, bukan karena nilai. Dari keresahan itu, muncul satu pertanyaan sederhana: mengapa jam tangan tidak bisa menjadi medium ekspresi diri, sekaligus ramah lingkungan?

Jawabannya datang dari material yang sering terabaikan—kayu. Afidha mulai bereksperimen dengan limbah kayu industri gitar dari Jawa Tengah, memadukannya dengan desain modern yang relevan dengan gaya hidup masa kini. Dari eksperimen kecil itulah EBONI lahir.

Membangun Brand dari Desa

Alih-alih memindahkan produksi ke kota besar, Afidha justru membangun studio dan workshop EBONI di desa. Baginya, desa bukan keterbatasan, melainkan ruang bertumbuh. Di sana, EBONI berkembang sebagai studio desain sekaligus manufaktur, bekerja bersama pengrajin lokal dan anak-anak muda desa.

Konsep “open workshop” menjadi ciri khas EBONI. Proses produksi tidak disembunyikan, melainkan dirayakan. Setiap jam tangan membawa cerita—tentang tangan yang merakitnya, material yang dipilih dengan sadar, dan filosofi waktu yang lebih manusiawi.

Jam Tangan Masa Kini

EBONI mengusung tagline “Jam Tangan Masa Kini”. Bukan karena mengikuti tren sesaat, tetapi karena memahami cara orang hidup hari ini. EBONI percaya bahwa tampil berbeda tidak harus ribet. Cukup dengan outfit basic, satu jam tangan yang tepat bisa mengangkat keseluruhan gaya—effortless, tapi tetap standout.

Tak hanya dari sisi desain, EBONI juga berani melangkah lebih jauh. EBONI menjadi brand jam tangan kayu lokal pertama yang waterproof, menjawab kebutuhan pemakaian harian yang lebih fleksibel. Dari limbah kayu, plastik daur ulang, hingga riset material berbasis ampas kopi, keberlanjutan menjadi bagian nyata dari inovasi produk, bukan sekadar jargon.

Bertumbuh Lewat Cerita dan Komunitas

Alih-alih mengandalkan iklan besar sejak awal, EBONI tumbuh melalui cerita, komunitas, dan konten organik. Dari media sosial, liputan media nasional, hingga berbagai kanal YouTube, kisah EBONI menyebar sebagai cerita tentang keberanian brand lokal untuk berdiri dengan identitasnya sendiri.

 

Hingga hari ini, lebih dari 120.000 unit jam tangan EBONI telah terjual ke seluruh Indonesia dan berbagai negara. Dalam beberapa tahun terakhir, EBONI mencatat pertumbuhan konsisten di atas 20% per tahun, sekaligus meraih berbagai penghargaan desain nasional dan internasional.


Share this post